Kesan pertama begitu nonton acara ini dari TV, INDONESIA BANGET GITU LOH. Wah gimana enggak, itu merupakan cerminan calon pemimpin Indonesia dari jaman dulu dan masa datang. Cukup membuat saya terhibur diantara film-film usang yang diputar ulang oleh stasiun tv swasta lainnya. Suguhan acara begitu jenaka dan membuat siapa pun yang menonton jadi terpingkal-pingkal. Sampe sampe, Opera Van Java, Sri mulat, Cagur, Komeng dan lainnya kalah lucu.

Apalagi Goro-goro mencapai klimaks pas dilakukan voting/pencontrengan untuk memilih Ketum (Ketua Umum). Seginikah kemampuan Partai yang katanya Besar dan tertua di negri ini? Hanya mampu mnyuguhkan interupsi dan protes dengan cara cuma teriak2 dan marah2? Mereka lupa kalau tingkah laku mereka itu di konsumsi oleh jutaan warga RI. Meraka gak malu? entahlah.

Pemilihan ini sangat kacau. Pemilihan tingkat partai saja seperti ini, gimana tingkat Nasional? hanya itu yang ada di pikiran saya. Terlalu banyak teriakan dan provokasi yang membuat suasana panas semakin membara, bagaikan bara api yang terkena tiupan angin dan siap untuk membakar hutan nan hijau.

Dah lah, saya cuma seorang penonton, bisanya cuma mengamati. Gak bisa berbuat apa2… nasib!